Rabu, 27 November 2013
SISTEM PEMBUMIAN ( PENTANAHAN )
Sistem pentanahan (pembumian) atau biasa disebut sebagai grounding system adalah sistem pengamanan terhadap perangkat-perangkat yang mempergunakan listrik sebagai sumber tenaga, dari lonjakan listrik utamanya petir. Sistem pentanahan digambarkan sebagai hubungan antara suatu peralatan atau sirkit listrik dengan bumi.
Salah satu usaha untuk memperkecil tegangan permukaan
tanah maka diperlukan suatu pentanahan yaitu dengan cara menambahkan elektroda
pentanahan yang ditanam ke dalam tanah. Oleh karena lokasi peralatan listrik
(gardu induk) biasanya tersebar dan berada pada daerah yang kemungkinannya
mempunyai struktur tanah berlapis-lapis maka diperlukan perencanaan pentanahan
yang sesuai, dengan tujuan untuk mendapatkan tahanan pentanahan yang kecil
sehingga tegangan permukaan yang timbul tidak membahayakan baik dalam kondisi
normal maupun saat terjadi gangguan ke tanah. Dalam paper ini analisa dilakukan
dengan menggunakan elektroda batang (Rod) dengan berbagai jenis pemasangannya
Pentanahan
peralatan adalah penghubungan bagian bagian peralatan listrik yang pada keadaan
normal tidak dialiri arus. Tujuannya adalah untuk membatasi tegangan antara
bagian bagian peralatan yang tidak dialiri arus dan antara bagian bagian ini
dengan tanah sampai pada suatu harga yang aman untuk semua kondisi operasi baik
kondisi normal maupun saat terjadi gangguan. Sistem pentanahan ini berguna
untuk memperoleh potensial yang merata dalam suatu bagian struktur dan
peralatan serta untuk memperoleh impedansi yang rendah sebagai jalan balik arus
hubung singkat ke tanah. Bila arus hubung singkat ke tanah dipaksakan mengalir
melalui tanah dengan tahanan yang tinggi akan menimbulkan perbedaan tegangan
yang besar dan berbahaya.
Dalam
analisis ini digunakan beberapa parameter yaitu kedalaman penanaman elektroda
pentanahan, panjang elektroda batang, jumlah elektroda batang (rod), ketebalan
lapisan tanah bagian pertama dan tahanan jenis tanah tiap lapisan dengan
menggunakan beberapa asumsi yaitu:
- Lapisan-lapisan tanah sejajar terhadap permukaan tanah
- Tahanan jenis tanah adalah konstan untuk setiap lapisan
- Analisa hanya dilakukan untuk elektroda rod
- Panjang rod (L) untuk semua kemungkinan pemasangan adalah sama (3.5 meter)
Pada
saat terjadi gangguan, arus gangguan yang dialirkan ke tanah akan menimbulkan
perbedaan tegangan pada permukaan tanah yang disebabkan karena adanya tahanan
tanah. Jika pada waktu gangguan itu terjadi seseorang berjalan di atas switch
yard sambil memegang atau menyentuh suatu peralatan yang diketanahkan yang
terkena gangguan, maka akan ada arus mengalir melalui tubuh orang tersebut.
Arus listrik tersebut mengalir dari tangan ke kedua kaki dan terus ke tanah,
bila orang tersebut menyentuh suatu peralatan atau dari kaki yang satu ke kaki
yang lain, bila ia berjalan di switch yard tanpa menyentuh peralatan. Arus ini
yang membahayakan orang dan biasanya disebut arus kejut. Berat ringannya bahaya
yang dialami seseorang tergantung pada besarnya arus listrik yang melalui
tubuh, lamanya arus tersebut mengalir dan frekuensinya.
1. Arus Melalui Tubuh Manusia
Kemampuan
tubuh manusia terhadap besarnya arus yang mengalir di dalamnya terbatas dan
lamanya arus yang masih dapat ditahan sampai yang belum membahayakan sukar
ditetapkan. Berdasarkan hal ini maka batas - batas arus berdasarkan pengaruhnya
terhadap tubuh manusia dijelaskan berikut ini .
Bila
seseorang memegang penghantar yang diberi tegangan mulai dari harga nol dan
dinaikkan sedikit demi sedikit, arus listrik yang melalui tubuh orang tersebut
akan memberikan pengaruh. Mula mula akan merangsang syaraf sehingga akan terasa
suatu getaran yang tidak berbahaya bila dengan arus bolak balik dan akan terasa
sedikit panas pada telapak tangan bila dengan arus searah (arus persepsi) Bila
tegangan yang menyebabkan terjadinya tingkat arus persepsi dinaikkan lagi maka
orang akan merasa sakit dan kalau terus dinaikkan maka otot-otot akan kaku
sehingga orang tersebut tidak berdaya lagi untuk melepaskan konduktor tersebut.
Apabila
arus yang melewati tubuh manusia lebih besar dari arus yang mempengaruhi otot
dapat mengakibatkan orang menjadi pingsan bahkan sampai mati, hal ini
disebabkan arus listrik tersebut mempengaruhi jantung sehingga jantung berhenti
bekerja dan peredaran darah tidak jalan.
Penelitian
yang telah dilakukan oleh Dalziel disebutkan bahwa 99.5 % dari semua orang yang
beratnya kurang dari 50 kg masih dapat menahan arus pada frekuensi 50 Hz atau
60 Hz yang mengalir melalui tubuhnya dan waktu yang ditentukan oleh persamaan
sebagai berikut :
| (1) |
![]() |
| (2) |
Jika K= ![]() |
| (3) |
Keterangan
:
Ik : besarnya
arus yang mengalir melalui tubuh (Ampere)
t : lamanya arus mengalir dalam tubuh atau lama ganguan tanah (detik)
K : konstanta empiris, sehubungan dengan adanya daya kejut yang dapat ditahan oleh X % dari sekelompok manusia.
Untuk X=99.5 %, 50 kg diperoleh K= 0.0135, maka k = 0.116
Untuk X=99.5 %, 70 kg diperoleh K=0.01246 maka k = 0.157
t : lamanya arus mengalir dalam tubuh atau lama ganguan tanah (detik)
K : konstanta empiris, sehubungan dengan adanya daya kejut yang dapat ditahan oleh X % dari sekelompok manusia.
Untuk X=99.5 %, 50 kg diperoleh K= 0.0135, maka k = 0.116
Untuk X=99.5 %, 70 kg diperoleh K=0.01246 maka k = 0.157
Dengan
menggunakan persamaan (3) akan diperoleh besarnya arus yang masih dapat ditahan
seseorang sebagai berikut :
![]() |
| (4) |
| (7) |
dimana
:
Rhoav : tahanan
jenis rata-rata dua lapis tanah (Ohm-m)
r1 : tahanan jenis tanah lapisan pertama (Ohm-m)
a : jarak antara elektroda (meter)
h : ketebalan lapisan tanah bagian pertama (meter)
K : koefesien refleksi
d : diameter elektroda (meter)
n : jumlah pengamatan (sampel) tiap lapisan tanah yang diamati
r1 : tahanan jenis tanah lapisan pertama (Ohm-m)
a : jarak antara elektroda (meter)
h : ketebalan lapisan tanah bagian pertama (meter)
K : koefesien refleksi
d : diameter elektroda (meter)
n : jumlah pengamatan (sampel) tiap lapisan tanah yang diamati
Perbedaan
tahanan jenis tanah akibat iklim biasanya terbatas sampai kedalaman beberapa
meter dari permukaan tanah, selanjutnya pada bagian yang lebih dalam secara
praktis akan konstan.
4. Konduktor Pentanahan
Konduktor
yang digunakan untuk pentanahan harus memenuhi beberapa persyaratan antara
lain:
- Memiliki daya hantar jenis (conductivity) yang cukup besar sehingga tidak akan memperbesar beda potensial lokal yang berbahaya.
- Memiliki kekerasan (kekuatan) secara mekanis pada tingkat yang tinggi terutama bila digunakan pada daerah yang tidak terlindung terhadap kerusakan fisik.
- Tahan terhadap peleburan dari keburukan sambungan listrik, walaupun konduktor tersebut akan terkena magnitude arus gangguan dalam waktu yang lama.
- Tahan terhadap korosi.
Dari
persamaan kapasitas arus untuk elektroda tembaga yang dianjurkan oleh IEEE
Guide standar, Onderdonk menemukan suatu persamaan :
![]() |
| (8) |
dimana
:
A : penampang konduktor
(circular mills)
I : arus gangguan (Ampere)
t : lama gangguan (detik)
Tm : suhu maksimum konduktor yang diizinkan ( 0 C )
Ta : suhu sekeliling tahunan maksimum ( 0 C )
I : arus gangguan (Ampere)
t : lama gangguan (detik)
Tm : suhu maksimum konduktor yang diizinkan ( 0 C )
Ta : suhu sekeliling tahunan maksimum ( 0 C )
Persamaan
di atas dapat digunakan untuk menentukan ukuran penampang minimum dari
konduktor tembaga yang dipakai sebagai kisi-kisi pentanahan.
5. Penentuan panjang elektroda pentanahan
Kebutuhan
akan konduktor pentanahan pada umumnya baru diperkirakan setelah diketahui tata
letak peralatan yang akan diketanahkan serta sistem pentanahan yang akan
digunakan. Sebagai dasar pertimbangan dalam penentuan panjang konduktor
pentanahan umumnya digunakan tegangan sentuh, bukan tegangan langkah dan
tegangan pindah. Hal ini disebabkan karena tegangan langkah yang timbul di
dalam instalasi yang terpasang pada switch yard umumnya lebih kecil daripada
tegangan sentuh tersebut.
Pentanahan
peralatan gardu induk mula mula dilakukan dengan menanamkan batang konduktor
tegak lurus permukaan tanah (rod). Penelitian selanjutnya dengan sistem
penanaman elektroda secara horisontal dengan bentuk kisi-kisi (grid) dan
gabungan sistem grid dengan rod.
6. Penentuan Jumlah Batang Pengetanahan
Pada
saat arus gangguan mengalir antara batang pengetanahan dengan tanah,
tanah akan menjadi panas akibat i2r . Suhu tanah harus tetap di
bawah 100 0 C untuk menjaga jangan sampai terjadi penguapan air
kandungan dalam tanah dan kenaikan tahanan jenis tanah.
Kerapatan
arus yang diizinkan pada permukaan batang pentanahan dapat dihitung dengan
persamaan [13] :
![]() |
| (9) |
i : kerapatan arus yang
diizinkan (Ampere/cm)
d : diameter batang pengetanahan (mm)
d : panas spesifik rata-rata tanah ( ± 1.75 x 106 watt-detik tiap m2 tiap 0C )
q : kenaikan suhu tanah yang diizinkan ( 0 C )
r : tahanan jenis tanah (Ohm-m)
t : lama waktu gangguan (detik)
d : diameter batang pengetanahan (mm)
d : panas spesifik rata-rata tanah ( ± 1.75 x 106 watt-detik tiap m2 tiap 0C )
q : kenaikan suhu tanah yang diizinkan ( 0 C )
r : tahanan jenis tanah (Ohm-m)
t : lama waktu gangguan (detik)
Seluruh
panjang batang pentanahan yang diperlukan dihitung dari pembagian arus gangguan
ke tanah dengan kerapatan arus yang diizinkan, sedang jumlah minimum batang
pentanahan yang diperlukan diperoleh dari pembagian panjang total dengan
panjang satu batang, atau dalam bentuk lain dituliskan sebagai berikut :
![]() |
| (10) |
dimana
:
Nmin : jumlah
minimum batang pentanahan yang diperlukan
Ig : arus gangguan ke tanah (Ampere)
i : kerapatan arus yang diizinkan (Ampere/cm)
Ig : arus gangguan ke tanah (Ampere)
i : kerapatan arus yang diizinkan (Ampere/cm)
Cara Menghitung Jumlah Titik Lampu Pada Suatu Ruang
Setiap
ruang pada bangunan rumah, kantor, apartement, gudang, pabrik, dan lainnya,
membutuhkan penerangan. Baik penerangan / pencahayaan alami (pada siang hari)
dan penerangan / pencahayaan buatan(pada malam hari). Disini kita akan membahas
tentang penerangan / pencahayaan buatan.
Apa
yang dimaksud dengan penerangan / pencahayaan buatan?
Penerangan
/ pencahayaan buatan adalah suatu penerangan yang dibuat / disain oleh manusia.
Seperti lilin, lampu, obor, senter dan lain sebagainya. Untuk mendapatkan hasil
penerangan / pencahayaan yang baik dan merata, kita harus dipertimbangkan
iluminasi (kuat penerangan), sudut penyinaran lampu, jenis dan jarak penempatan
lampu yang diperlukan sesuai dengan kegiatan yang ada dalam suatu ruangan atau
fungsi ruang tersebut.
Pada
dasarnya dalam perhitungan jumlah titik lampu pada suatu ruang dipengaruhi oleh
benyak faktor, antara lain : dimensi ruang, kegunaan / fungsi ruang, warna
dinding, type armature yang akan digunakan, dan masih banyak lagi.
Contoh
:
Pencahayaan
pada gudang di rumah kita, akan berbeda dengan pencahayaan pada ruang tamu atau
kamar tidur. Ini dikarenakan fungsi dari ruang tersebut dan berdasarkan tingkat
kegiatan yang akan dilakukan pada ruang tersebut.
Sekarang
Pertanyaannya, bagaimana kita dapat menghitung jumlah lampu?
Menurut
SNI, daya pencahayaan maksimum untuk ruang kantor/ industri adalah 15 watt/ m2.
Untuk rumah tak melebihi 10 watt/m2.( tambahan Ir. Hartono Poerbo, M.Arch :
untuk toko 20-40 watt/m2, hotel 10-30 watt/m2, sekolah 15-30 watt/m2, rumah sakit
10-30 watt/m2 ). Coba terapkan perhitungan ini pada setiap ruang di rumah,
kemudian jumlahkan dan dirata-rata. Misalnya, rumah anda berukuran 36 m2, maka
jumlah daya untuk lampu harus di bawah 360 watt. Jika jumlahnya berlebih,
sebaiknya kurangi titik lampu atau gunakan jenis lampu hemat energi.
Jumlah
lampu pada suatu ruang ditentukan / dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut
:
Dimana
:
N
= jumlah titik lampu
E
= Kuat Penerangan /target kuat
penerangan yang akan dicapai (Lux)
L
= Panjang Ruang(Meter)
W
= Lebar Ruang (Meter)
Ø
= Total Lumen Lampu / Lamp Luminous
Flux
LLF
= Light loss factor / Faktor Cahaya Rugi
(0,7-0,8)
CU
= coeffesien of utilization / Faktor
Pemanfaatan (50-65 %)
n
= Jumlah Lampu dalam 1 titik Lampu
KUAT
PENERANGAN (E)
Perkantoran
= 200 - 500 Lux
Apartemen/Rumah
= 100 - 250 Lux
Hotel = 200 - 400 Lux
Rumah
sakit/Sekolah = 200 - 800 Lux
Basement/Toilet/Coridor/Hall/Gudang/Lobby = 100 - 200 Lux
Restaurant/Store/Toko
= 200 - 500 Lux
Ø = W x L/w
Dimana
:
W
= daya lampu,
L/w = Luminous Efficacy Lamp/Lumen per watt( dapat dilihat
pada box lampu yang kita beli ).
Contoh,
Untuk
lampu PL 18W dengan type ESSENTIAL 18W CDL E27 220-240V mempunyai Luminous
Efficacy Lamp sebesar 61 Lm/W, jadi :
Ø = W x L/w
Ø
= 18 x 61 = 1098 lumen.
Sekarang
coba kita hitung sebuah ruang tamu dengan panjang 7 meter dan lebar 4 meter,
akan dipasang dengan lampu PL 18 watt. Berapa jumlah lampu yang akan dipasang
pada ruanga tersebut.
Diketahui
:
E
= 150 (antara 100 – 300 Lux),
L
= 7 meter,
W
= 4 meter,
N
= 1 bh,
LLF
= 0,8 (Antara 0,7-0,8),
CU
= 65% (antara 50-65 %),
Ø
= 1098 lumen
Ditanya
N :
Jumlah
Titik Lampu yang akan dipasang pada ruang 7 x 4 meter dengan menggunakan jenis
lampu PL 18 w (ESSENTIAL 18W CDL E27 220-240V)
Penyelesaiannya
:
FUSE CUT OUT
Fuse cut out (sekring) adalah suatu alat pengaman yang melindungi jaringan terhadap arus beban lebih (over load current) yang mengalir melebihi dari batas maksimum, yang disebabkan karena hubung singkat (short circuit) atau beban lebih (over load). Konstruksi dari fuse cut out ini jauh lebih sederhana bila dibandingkan dengan pemutus beban (circuit breaker)
yang terdapat di Gardu Induk (sub-station). Akan tetapi fuse cut out
ini mempunyai kemampuan yang sama dengan pemutus beban tadi. Fuse cut
out ini hanya dapat memutuskan satu saluran kawat jaringan di dalam satu
alat. Apabila diperlukan pemutus saluran tiga fasa maka dibutuhkan fuse
cut out sebanyak tiga buah.
Penggunaan fuse cut out ini merupakan
bagian yang terlemah di dalam jaringan distribusi. Sebab fuse cut out
boleh dikatakan hanya berupa sehelai kawat yang memiliki penampang
disesuaikan dengan besarnya arus maksimum yang diperkenankan mengalir di
dalam kawat tersebut. Pemilihan kawat yang digunakan pada fuse cut out
ini didasarkan pada faktor lumer yang rendah dan harus memiliki daya
hantar (conductivity) yang tinggi. Faktor lumer ini ditentukan
oleh temperatur bahan tersebut. Biasanya bahan-bahan yang digunakan
untuk fuse cut out ini adalah kawat perak, kawat tembaga, kawat seng,
kawat timbel atau kawat paduan dari bahan- bahan tersebut. Mengingat
kawat perak memiliki konduktivitas 60,6 mho/cm lebih tinggi dari kawat
tembaga, dan memiliki temperatur 960° C, maka pada jaringan distribusi
banyak digunakan. Kawat perak ini dipasangkan di dalam tabung porselin
yang diisi dengan pasir putih sebagai pemadam busur api, dan
menghubungkan kawat tersebut pada kawat fasa, sehingga arus mengalir
melaluinya.
Jenis fuse cut out ini untuk jaringan
distribusi digunakan dengan saklar pemisah. Pada ujung atas dihubungkan
dengan kontak-kontak yang berupa pisau yang dapat dilepaskan. Sedangkan
pada ujung bawah dihubungkan dengan sebuah engsel. Untuk lebih jelasnya
lihat gambar di bawah ini.
Umur dari fuse cut out ini tergantung
pada arus yang melaluinya. Bila arus yang melalui fuse cut out tersebut
melebihi batas maksimum, maka umur fuse cut out lebih pendek. Oleh
karena itu pemasangan fuse cut out pada jaringan distribusi hendaknya
yang memiliki kemampuan lebih besar dari kualitas tegangan jaringan,
kurang lebih tiga sampai lima kali arus nominal yang diperkenankan. Fuse
cut out ini biasanya ditempatkan sebagai pengaman tansformator
distribusi, dan pengaman pada cabang- cabang saluran feeder yang menuju
ke jaringan distribusi sekunder.
Bisa dilihat pada gambar diatas FCO
dipasang pada gardu distribusi, posisi FCO berada setelah arrester dan
sebelum transformator apabila di tinjau dari atas ke bawah.
Senin, 25 November 2013
GANGGUAN PADA SISTEM TENAGA LISTRIK
Macam - macam Gangguan
Keterangan pada gambar di atas :
1. Hubung singkat 1 fasa ke tanah
2. Hubung singkat 2 fasa (antar fasa)
3. Hubung singkat 2 fasa ke tanah
4. Hubung singkat 3 fasa
5. Hubung singkat 3 fasa ke tanah
I. Gangguan Beban Lebih
Beban
lebih mungkin tidak tepat disebut sebagai gangguan. Namun karena beban
lebih adalah suatu keadaan abnormal yang apabila dibiarkan terus
berlangsung dapat membahayakan peralatan, jadi harus diamankan, maka
beban lebih harus ikut ditinjau.
Beban lebih dapat terjadi pada trafo atau pada saluran karena beban yang
dipasoknya terus meningkat, atau karena adanya maneuver atau perubahan
aliran beban di jaringan setelah adanya gangguan. Beban lebih dapat
mengakibatkan pemanasan yang berlebihan yang selanjutnya panas yang
berlebihan itu dapat mempercepat proses penuaan atau memperpendek umur
peralatan listrik.
II. Gangguan Hubung Singkat (Short Circuit)
Gangguan hubung singkat dapat terjadi antara fasa (3 fasa atau 2 fasa)
atau antara 1 fasa ke tanah, dan dapat bersifat temporair (non
persistant) atau permanent (persistant). Gangguan yang permanent
misalnya hubung singkat yang terjadi pada kabel, belitan trafo atau
belitan generator karena tembusnya (break downnya) isolasi padat.
Gangguan temporair misalnya akibat flashover karena sambaran petir,
pohon, atau tertiup angin.
Gangguan hubung singkat dapat merusak peralatan secara termis dan
mekanis. Kerusakan termis tergantung besar dan lama arus gangguan,
sedangkan kerusakan mekanis terjadi akibat gaya tarik-menarik atau
tolak-menolak.
Keterangan pada gambar di atas :
1. Hubung singkat 1 fasa ke tanah
2. Hubung singkat 2 fasa (antar fasa)
3. Hubung singkat 2 fasa ke tanah
4. Hubung singkat 3 fasa
5. Hubung singkat 3 fasa ke tanah
III. Gangguan Tegangan Lebih
Tegangan lebih dapat dibedakan sebagai berikut :
- Tegangan lebih dengan power frequency
- Tegangan lebih transient
Tegangan lebih transient dapat dibedakan :
- Surja Petir (Lightning surge)
- Surja Hubung (Switching surge)
Timbulnya tegangan lebih dengan power frequency, dapat terjadi karena :
- Kehilangan beban atau penurunan beban di jaringan akibat switching, karena gangguan atau karena maneuver.
- Gangguan pada AVR (Automatic Voltage Regulator) pada generator atau pada on load tap changer dari trafo.
- Over speed pada generator karena kehilangan beban.
IV. Gangguan Kurangnya Daya
Kekurangan daya dapat terjadi karena tripnya unit pembangkit (akibat
gangguan di prime movernya atau di generator) atau gangguan hubung
singkat di jaringan yang menyebabkan kerjanya relay dan circuit
breakernya yang berakibat terlepasnya suatu pusat pembangkit dari
sistem. Jika kemampuan atau tingkat pembebanan pusat atau unit
pembangkit yang hilang atau terlepas tersebut melampaui spinning reverse
system, maka pusat-pusat pembangkit yang masih ada akan mengalami
pembebanan yang berkelebihan sehingga frequency akan merosot terus, yang
bila tidak diamankan akan mengakibatkan tripnya unit pembangkit lain
(cascading) yang selanjutnya dapat berakibat runtuhnya (collapse) sistem
(pemadaman total).
V. Gangguan Ketidakstabilan (Instability)
Gangguan hubung singkat atau kehilangan pembangkit dapat menimbulkan
ayunan daya (power swing) atau yang lebih hebat dapat menyebabkan
unit-unit pembangkit lepas sinkron (out of synchronism). Power swing
dapat menyebabkan relay pengaman salah kerja yang selanjutnya
menyebabkan gangguan yang lebih luas. Lepas sinkron dapat mengakibatkan
berkurangnya pembangkit karena tripnya unit pembangkit tersebut atau
terpisahnya sistem, yang selanjutnya dapat menyebabkan gangguan yang
lebih luas bahkan runtuh (collapse).
Upaya Mengatasi Gangguan
Dalam sistem tenaga listrik, upaya untuk mengatasi gangguan dapat dilakukan dengan cara :
I. Mengurangi Terjadinya Gangguan
Gangguan tidak dapat dicegah sama sekali, tapi dapat dikurangi kemungkinan terjadinya sebagai berikut :
- Peralatan yang dapat diandalkan adalah peralatan yang minimum memenuhi persyaratan standart yang dibuktikan dengan type test, dan yang telah terbukti keandalannya dari pengalaman. Penggunaan peralatan di bawah mutu standart akan merupakan sumber gangguan.
- Penentuan spesifikasi yang tepat dan design yang baik sehingga semua peralatan tahan terhadap kondisi kerja normal maupun dalam keadaan gangguan, baik secara elektris, thermis maupun mekanis.
- Pemasangan yang benar sesuai dengan design, spesifikasi dan petunjuk dari pabrik.
- Penggunaan kawat tanah pada SUTT/SUTET dengan tahanan pentanahan kaki tiang yang rendah. Untuk pemeriksaan dan pemeliharaan, maka konduktor pentanahannya harus dapat dilepas dari kaki tiangnya.
- Penebangan atau pemangkasan pohon-pohon yang berdekatan dengan kawat fasa SUTM dan SUTT harus dilakukan secara periodik. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan tidak hanya jaraknya dalam keadaan tidak ada angin, melainkan juga dalam keadaan pohon-pohon tersebut ketika ditiup angin.
- Penggunaan kawat atau kabel udara berisolasi untuk SUTM harus dipilih dan digunakan secara selektif.
- Operasi dan pemeliharaan yang baik.
- Menghilangkan atau mengurangi penyebab gangguan atau kerusakan melalui penyelidikan.
II. Mengurangi Akibat Gangguan
Menghilangkan gangguan sama sekali dalam suatu sistem tenaga listrik
merupakan usaha yang tidak mungkin dapat dilakukan. Oleh karena itu maka
usaha yang dapat dilakukan adalah mengurangi akibat kerusakan yang
ditimbulkannya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan adalah :
- Mengurangi besarnya arus gangguan. Untuk mengurangi arus gangguan dapat dilakukan dengan cara : menghindari konsentrasi pembangkitan (mengurangi short circuit level) menggunakan reaktor dan menggunakan tahanan untuk pentanahan netralnya.
- Penggunaan lighting arrester dan penentuan tingkat dasar isolasi (BIL) dengan koordinasi isolasi yang tepat.
- Melepaskan bagian sistem yang terganggu dengan menggunakan circuit breaker dan relay pengaman.
- Mengurangi akibat pelepasan bagian sistem yang terganggu dengan cara :
- Penggunaan jenis relay yang tepat dan penyetelan relay yang selektif agar bagian yang terlepas sekecil mungkin.
- Penggunaan saluran double.
- Penggunaan automatic reclosing.
- Penggunaan sectionalizer pada JTM.
- Penggunaan spindle pada JTM atau setidak-tidaknya ada titik pertemuan antar saluran sehingga ketika ada kerusakan atau pemeliharaan tersedia alternative supply untuk maneuver.
- Penggunaan peralatan cadangan.
- Penggunaan pola load shedding dan sistem splitting untuk mengurangi akibat kehilangan pembangkit.
- Penggunaan relay dan circuit breaker yang cepat dan AVR dengan response yang cepat pula untuk menghindari atau mengurangi kemungkinan gangguan instability (lepas sinkron).
KOMPONEN - KOMPONEN PROTEKSI
Sistem proteksi tenaga listrik pada umumnya terdiri dari beberapa
komponen yang di rancang untuk mengidentifikasi kondisi sistem tenaga
listrik dan bekerja berdasarkan informasi yang diperoleh dari sistem
tersebut seperti arus, tegangan atau sudut fasa antara keduanya.
Informasi yang diperoleh dari sistem tenaga listrik akan digunakan untuk
membandingkan besarannya dengan besaran ambang-batas (threshold setting)
pada peralatan proteksi. Apabila besaran yang diperoleh dari sistem
melebihi setting ambang-batas peralatan proteksi, maka sistem proteksi
akan bekerja untuk mengamankan kondisi tersebut. Peralatan proteksi pada
umumnya terdiri dari beberapa elemen yang dirancang untuk mengamati
kondisi sistem dan melakukan suatu tindakan berdasarkan kondisi sistem
yang diamatinya.
Tc = Tp + Td + Ta
Ket :
Tc = clearing time
Tp = comparison time
Td = decision time
DC System Power Supply
Waktu pemutusan gangguan merupakan waktu total yang dibutuhkan peralatan
proteksi sampai terbukanya pemutus tenaga atau disebut juga fault clearing time.
Tc = Tp + Td + Ta
Ket :
Tc = clearing time
Tp = comparison time
Td = decision time
Waktu pemutusan gangguan merupakan salah satu faktor yang sangat penting
dalam menentukan suatu skema proteksi. Hal ini dikarenakan suatu
peralatan proteksi harus dikoordinasikan waktunya dengan peralatan
proteksi yang lain agar hanya peralatan proteksi yang paling dekat
dengan gangguan saja yang bekerja ( prinsip selektivitas).
Berikut adalah gambar sistematis dari komponen-komponen proteksi tenaga listrik:
| Komponen proteksi sistem tenaga listrik |
Trafo Instrumen
Current Transformer (CT) / Trafo Arus
Current Transformer (CT) adalah suatu perangkat listrik yang berfungsi
menurunkan arus yang besar menjadi arus dengan ukuran yang lebih kecil.
CT digunakan karena dalam pengukuran arus tidak mungkin dilakukan
langsung pada arus beban atau arus gangguan, hal ini disebabkan arus
sangat besar dan bertegangan sangat tinggi. Karakteristik CT ditandai
oleh Current Transformer Ratio (CT) yang merupakan perbandingan antara arus yang dilewatkan oleh sisi primer dengan arus yang dilewatkan oleh sisi sekunder.
Potential Transformer (PT) / Trafo Tegangan
Potential Transformer adalah suatu peralatan listrik yang
berfungsi menurunkan tegangan yang tinggi menjadi tegangan yang lebih
rendah yang sesuai dengan setting relay. Trafo ini juga memiliki angka
perbandingan lilitan atau tegangan primer dan sekunder yang menunjukkan
kelasnya.
Rele/Relay
Rele/Relay berasal dari teknik telegrafi, dimana sebuah coil di-
energize oleh arus lemah, dan coil ini menarik armature untuk menutup
kontak. Rele merupakan jantung dari proteksi Sistem Tenaga Listrik, dan
telah berkembang menjadi peralatan yang rumit. Rele dibedakan dalam dua
kelompok :
- Komparator : mendeteksi dan mengukur kondisi abnormal, dan membuka atau menutup kontak (trip).
- Auxiliary Relays : dirancang untuk dipakai di auxiliary circuit yang dikontrol oleh rele komparator, dan membuka / menutup kontak-kontak lain (yang umumnya berarus kuat).
Circuit Breaker/CB
Circuit Breaker (CB) adalah salah satu peralatan pemutus daya yang
berguna untuk memutuskan dan menghubungkan rangkaian listrik dalam
kondisi terhubung ke beban secara langsung dan aman, baik pada kondisi
normal maupun saat terdapat gangguan. Berdasarkan media pemutus listrik /
pemadam bunga api, terdapat empat jenis CB sbb:
1. Air Circuit Breaker (ACB), menggunakan media berupa udara.
2. Vacuum Circuit Breaker (VCB), menggunakan media berupa vakum.
3. Gas Circuit Breaker (GCB), menggunakan media berupa gas SF6.
4. Oil Circuit Breaker (OCB), menggunakan media berupa minyak.
Berikut ini adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu peralatan untuk menjadi pemutus daya :
a. Mampu menyalurkan arus maksimum sistem secara kontinu.
b. Mampu memutuskan atau menutup jaringan dalam keadaan berbeban ataupun dalam
keadaan hubung singkat tanpa menimbulkan kerusakan pada pemutus daya itu sendiri.
c. Mampu memutuskan arus hubung singkat dengan kecepatan tinggi.
1. Air Circuit Breaker (ACB), menggunakan media berupa udara.
2. Vacuum Circuit Breaker (VCB), menggunakan media berupa vakum.
3. Gas Circuit Breaker (GCB), menggunakan media berupa gas SF6.
4. Oil Circuit Breaker (OCB), menggunakan media berupa minyak.
Berikut ini adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu peralatan untuk menjadi pemutus daya :
a. Mampu menyalurkan arus maksimum sistem secara kontinu.
b. Mampu memutuskan atau menutup jaringan dalam keadaan berbeban ataupun dalam
keadaan hubung singkat tanpa menimbulkan kerusakan pada pemutus daya itu sendiri.
c. Mampu memutuskan arus hubung singkat dengan kecepatan tinggi.
DC System Power Supply
DC System Power Supply merupakan pencatu daya cadangan yang terdiri dari
Battery Charger, sebagai peralatan yang mengubah tegangan AC ke DC, dan
Battery, sebagai penyimpan daya cadangan. Sebagai peralatan proteksi,
DC System Power Supply merupakan peralatan yang sangat vital karena jika
terjadi gangguan dan kontak telah terhubung, maka DC System Power
Supply akan bekerja yang menyebabkan CB membuka. Charger sebenarnya
adalah sumber utama dari DC power supply, karena charger adalah alat
untuk merubah AC power menjadi DC power (rectifier).
TUJUAN DAN KETENTUAN UMUM INSTALASI LISTRIK
Ø Maksud dan tujuan instalasi listrik harus
direncanakan, dipasang dan di periksa sesuai ketentuan PUIL 2000, agar:
1.Instalasi listrik dapat dioperasikan dengan baik
2.Terjamin keselamatan manusia
3.Terjamin keamanan instalasi listrik beserta
perlengkapannya
4.Terjamin keamanan gedung serta isinya terhadap
kebakaran akibat listrik
5.Terjamin perlindungan lingkungan
6.Terjamin tujuan pencahayaan yaitu terwujudnya
interior yang efisien dan nyaman
Ø Ketentuan umum yang harus di patuhi :
1.Setiap instalasi harus ada rencana instalasi yang
harus di setujui
2.Instalasi listrik harus di rancang, di
pasang dan di pelihara sedemikian, sehingga tidak menimbulkan bahaya kebakaran dan
mencegah penjalaran kebakaran
3.Peralatan dan perlengkapan listrik yang di pasang
pada instalasi, harus memenuhi ketentuan :
a. STANDARD yaitu
harus tercantum dengan jelas tanda kesesuaian standard dan tanda pengenalnya
antara lain: nama atau logo pembuat, teganagn, daya dan atau arus pengenal, data
teknis lain yang di syaratkan SNI atau standard lain yang berlaku
b.PUIL
2000 yaitu harus baik dan dalam keadaan berfungsi, di pilih sesuai penggunaan
dan tidak boleh
di bebani melebihi kemampuannya
4. Instalasi listrik harus di lengkapi
proteksi untuk keselamatan :
a. Proteksi
dari kejut listrik
b.Proteksi dari efek termal
c. Proteksi
dari arus lebih
d.Proteksi dari tegangan lebih
5. Instalasi listrik yang baru di
pasang atau mengalami perubahan harus di paksa, di uji dan bila perlu dicoba sebelum di operasikan.yang memenuhi ketentuan
PUIL 2000,di beri sertifikat
6. Perencana, Pemasang dan
Pemeriksa Instalasi Listrik "HARUS MEMILKI IJIN DAN HARUS MENGGUNAKAN TENAGA TEKNIS YANG KOMPETEN" sesuai
dengan bidang dan tanggung jawabnya di bidang ketenaga
listrikan
SISTEM PROTEKSI
Definisi
Sistem proteksi adalah suatu sistem pengamanan terhadap peralatan
listrik, yang diakibatkan adanya gangguan teknis, gangguan alam,
kesalahan operasi, dan penyebab yang lainnya.
Fungsi Proteksi
Fungsi Proteksi adalah memisahkan bagian sistem yang terganggu sehingga
bagian sistem lainnya dapat terus beroperasi dengan cara sbb :
- Mendeteksi adanya gangguan atau keadaan abnormal lainnya pada bagian sistem yang diamankannya (fault detection ).
- Melepaskan bagian sistem yang terganggu (fault clearing ).
- Memberitahu operator adanya gangguan dan lokasinya (announciation)
Pengaman-lebur (fuse) adalah contoh alat pengaman yang paling sederhana
yang jika dipilih dengan tepat dapat memenuhi fungsi tersebut. Untuk
pengamanan bagian sistem yang lebih penting, digunakan sistem proteksi
yang terdiri dari seperangkat peralatan proteksi yang komponen-komponen
terpentingnya adalah :
Relay Proteksi : sebagai elemen perasa yang mendeteksi adanya gangguan atau keadaan abnormal lainnya (fault detection ).
Pemutus Tenaga (PMT) : sebagai pemutus arus
gangguan di dalam sirkit tenaga untuk melepaskan bagian sistem yang
terganggu. Dengan perkataan lain “membebaskan sistem dari gangguan”
(fault clearing ). PMT menerima perintah (sinyal trip ) dari relay
proteksi untuk membuka.
Trafo Arus dan/atau Trafo Tegangan : untuk meneruskan arus
dan/atau tegangan dengan perbandingan tertentu dari sirkit primer
(sirkit tenaga ) ke sirkit sekunder (sirkit relay) dan memisahkan sirkit
sekunder dari sirkit primernya.
Battery (aki) : sebagai sumber tenaga untuk mengetrip PMT
dan catu daya untuk relay (relay digital/ relay statik ) dan relay bantu
(auxiliary relay ).
Hubungan antara komponen-komponen proteksi sebagai suatu sistem proteksi
yang sederhana dapat dilihat pada Gbr. A untuk sistem tegangan menengah
(TM) atau tegangan tinggi (TT), dan Gbr. B , untuk sistem tegangan
ekstra tinggi (TET) yang menggunakan proteksi dobel (duplicate ).
Suatu sistem tenaga listrik dibagi kedalam seksi-seksi yang dibatasi
oleh PMT (Pemutus Tenaga). Tiap seksi memiliki relay pengaman dan
memiliki daerah pengamanan (Zone of Protection). Bila terjadi gangguan,
maka relay akan bekerja mendeteksi gangguan dan PMT akan trip. Gambar
dibawah ini akan menjelaskan tentang konsep pembagian daerah proteksi.
Keterangan
1. Overall Diifferential Relay
Pengaman utama Generator – Trafo
2. Over Current Relay
Pengaman cadangan local Generator – Trafo
Pengaman cadangan jauh Bus A
3. Pengaman Bus
Pengaman utama Bus A
4. Distance Relay Zone I dan PLC di A1
Pengaman utama saluran A-B
5. Distance Relay Zone II di A1
Pengaman utama Bus B
Pengaman cadangan jauh sebagian Trafo di B
6. Distance Relay Zone III di A1
Pengaman cadangan jauh Trafo di B sampai ke Bus C
7. Diifferential Trafo
Pengaman utama Trafo
8. Over Current Relay di sisi 150 KV
Pengaman cadangan local Trafo
Pengaman cadangan jauh Bus C
9. Over Current Relay di sisi 20 KV
Pengaman utama Bus C
Pengaman cadangan jauh saluran C-D
10. Over Current Relay di C1
Pengaman utama saluran C-D
Pengaman cadangan jauh saluran D-E
11. Over Current Relay di D
Pengaman utama saluran D-E
Pengaman cadangan jauh seksi berikutnya.
Pada gambar di atas dapat dilihat bahwa daerah proteksi pada sistem
tenaga listrik dibuat bertingkat dimulai dari pembangkitan, gardu induk,
saluran distribusi primer sampai ke beban. Garis putus-putus
menunjukkan pembagian sistem tenaga listrik ke dalam beberapa daerah
proteksi. Masing-masing daerah memiliki satu atau beberapa komponen
system daya disamping dua buah pemutus rangkaian. Setiap pemutus
dimasukkan ke dalam dua daerah proteksi berdekatan. Batas setiap daerah
menunjukkan bagian system yang bertanggung jawab untuk memisahkan
gangguan yang terjadi di daerah tersebut dengan sistem lainnya. Aspek
penting lain yang harus diperhatikan dalam pembagian daerah proteksi
adalah bahwa daerah yang saling berdekatan harus saling tumpang tindih
(overlap), hal ini dimaksudkan agar tidak ada sistem yang dibiarkan
tanpa perlindungan. Pembagian daerah proteksi ini bertujuan agar daerah
yang tidak mengalami gangguan tetap dapat beroperasi dengan baik
sehingga dapat mengurangi daerah pemadaman.
Pengelompokkan Sistem Proteksi
Berdasarkan daerah pengamanannya sistem proteksi dibedakan menjadi :
- Proteksi pada Generator
- Proteksi pada Transformator
- Proteksi pada Transmisi
- Proteksi pada Distribusi
Pembagian Tugas Dalam Sistem Proteksi
Dalam sistem proteksi pembagian tugas dapat diuraikan menjadi :
- Proteksi utama, berfungsi untuk mempertinggi keandalan, kecepatan kerja, dan fleksibilitas sistem proteksi dalam melakukan proteksi terhadap sistem tenaga.
- Proteksi pengganti, berfungsi jika proteksi utama menghadapi kerusakan atau kegagalan untuk mengatasi gangguan yang terjadi.
- Proteksi tambahan, berfungsi untuk pemakaian pada waktu tertentu, sebagai pembantu proteksi utama pada daerah tertentu yang dibutuhkan
Jumat, 22 November 2013
TEORI DASAR PENCAHAYAAN
Sejak dimulainya peradaban,
manusia menciptakan cahaya hanya dari api, walaupun lebih banyak sumber
panasnya daripada cahaya yang dihasilkan. Di abad ke 21 ini kita masih
menggunakan prinsip yang sama dalam menghasilkan panas dan cahaya, salah satunya
adalah melalui lampu pijar.
Hanya dalam beberapa dekade terakhir produk-produk penerangan menjadi lebih canggih dan beraneka ragam. Perkiraan menunjukan bahwa pemakaian energi oleh penerangan adalah 20 - 45% untuk pemakaian energi total oleh bangunan komersial dan sekitar 3 - 10% untuk pemakaian energi total oleh industri.
Hampir kebanyakan pengguna energi komersial dan industri peduli penghematan energi dalam sistim penerangan. Seringkali, penghematan energy yang cukup berarti dapat didapatkan dengan investasi yang minim dan masuk akal. Mengganti lampu uap merkuri atau sumber lampu pijar dengan logam halida atau sodium bertekanan tinggi, sehingga akan menghasilkan pengurangan biaya energi dan meningkatkan jarak penglihatan. Memasang dan menggunakan kontrol foto, pengaturan waktu penerangan, dan sistim manajemen energi juga dapat memperoleh penghematan yang luar biasa. Walau begitu, dalam beberapa kasus mungkin perlu mempertimbangkan modifikasi rancangan penerangan untuk mendapatkan penghematan energi yang dikehendaki. Penting untuk dimengerti bahwa lampu-lampu yang efisien, belum tentu merupakan sistim penerangan yang efisien.
Teori Dasar Mengenai Cahaya
Cahaya hanya merupakan satu bagian dari berbagai jenis gelombang elektromagnetis yang terbang ke angkasa. Gelombang tersebut memiliki panjang dan frekuensi tertentu, yang nilainya dibedakan dari energi cahaya lainnya dalam spektrum elektromagnetisnya.
Cahaya dipancarkan dari suatu benda dengan fenomena sebagai berikut:
• Pijar, benda padat dan cair memancarkan radiasi yang dapat dilihat bila dipanaskan sampai suhu tertentu. Intensitas meningkat dan penampilan menjadi semakin putih jika suhu naik.
• Muatan Listrik, jika arus listrik dilewatkan melalui gas,maka atom dan molekulnya akan memancarkan radiasi, dimana spektrumnya merupakan karakteristik dari elemen yang ada.
• Electro Luminescence, Cahaya dihasilkan jika arus listrik dilewatkan melalui padatan tertentu seperti semikonduktor atau bahan yang mengandung fosfor.
• Photo luminescence, radiasi pada salahsatu panjang gelombang diserap, biasanya oleh suatu padatan dan dipancarkan kembali pada berbagai panjang gelombang. Bila radiasi yang dipancarkan kembali tersebut merupakan fenomena yang dapat terlihat, maka radiasi tersebut disebut fluorescence atau phosphorescence.
Cahaya nampak, seperti yang dapat dilihat pada spektrum elektromagnetik, diberikan dalam Gambar 1, menyatakan gelombang yang sempit diantara cahaya ultraviolet (UV) dan energi inframerah (panas). Gelombang cahaya tersebut mampu merangsang retina mata, yang menghasilkan sensasi penglihatan yang disebut pandangan. Oleh karena itu, penglihatan memerlukan mata yang berfungsi dan cahaya yang nampak.
Gambar 1. Radiasi yang Tampak
Definisi dan Istilah yang Umum Digunakan
• Lumen: Satuan flux cahaya; flux dipancarkan didalam satuan unit sudut padatan oleh suatu sumber dengan intensitas cahaya yang seragam satu candela. Satu lux adalah satu lumen per meter persegi. Lumen (lm) adalah kesetaraan fotometrik dari watt, yang memadukan respon mata “pengamat standar”. 1 watt = 683 lumens pada panjang gelombang 555 nm.
• Efficacy Beban Terpasang: Merupakan iluminasi/terang rata-rata yang dicapai pada suatu bidang kerja yang datar per watt pada pencahayaan umum didalam ruangan yang dinyatakan dalam lux/W/m².
• Perbandingan Efficacy Beban Terpasang: Merupakan perbandingan efficacy beban target dan beban terpasang.
• Luminaire: Luminaire adalah satuan cahaya yang lengkap, terdiri dari sebuah lampu atau beberapa lampu, termasuk rancangan pendistribusian cahaya, penempatan dan perlindungan lampu-lampu, dan dihubungkannya lampu ke pasokan daya.
• Lux: Merupakan satuan metrik ukuran cahaya pada suatu permukaan. Cahaya rata-rata yang dicapai adalah rata-rata tingkat lux pada berbagai titik pada area yang sudah ditentukan. Satu lux setara dengan satu lumen per meter persegi. Tinggi mounting: Merupakan tinggi peralatan atau lampu diatas bidang kerja. Efficacy cahaya terhitung: Perbandingan keluaran lumen terhitung dengan pemakaian daya terhitung dinyatakan dalam lumens per watt.
• Indeks Ruang: Merupakan perbandingan, yang berhubungan dengan ukuran bidang keseluruhan terhadap tingginya diantara tinggi bidang kerja dengan bidang titik lampu.
• Efficacy Beban Target: Nilai efficacy beban terpasang yang dicapai dengan efisiensi terbaik, dinyatakan dalam lux/W/m².
• Faktor pemanfaatan (UF): Merupakan bagian flux cahaya yang dipancarkan oleh lampu-lampu, menjangkau bidang kerja. Ini merupakan suatu ukuran efektivitas pola pencahayaan.
• Intensitas Cahaya dan Flux: Satuan intensitas cahaya I adalah candela (cd) juga dikenal dengan international candle. Satu lumen setara dengan flux cahaya, yang jatuh pada setiap meter persegi (m2) pada lingkaran dengan radius satu meter (1m) jika sumber cahayanya isotropik 1-candela (yang bersinar sama ke seluruh arah) merupakan pusat isotropik lingkaran. Dikarenakan luas lingkaran dengan jari-jari r adalah 4πr2, maka lingkaran dengan jari-jari 1m memiliki luas 4πm2, dan oleh karena itu flux cahaya total yang dipancarkan oleh sumber 1- cd adalah 4π1m. Jadi flux cahaya yang dipancarkan oleh sumber cahaya isotropik dengan intensitas I adalah:
Flux cahaya (lm) = 4π × intensitas cahaya (cd)
Perbedaan antara lux dan lumen adalah bahwa lux berkenaan dengan luas areal pada mana flux menyebar 1000 lumens, terpusat pada satu areal dengan luas satu meter persegi, menerangi meter persegi tersebut dengan cahaya 1000 lux. Hal yang sama untuk 1000 lumens, yang menyebar kesepuluh meter persegi, hanya menghasilkan cahaya suram 100 lux.
Hukum kuadrat terbalik
Hukum kuadrat terbalik mendefinisikan hubungan antara pencahayaan dari sumber titik dan jarak. Rumus ini menyatakan bahwa intensitas cahaya per satuan luas berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari sumbernya (pada dasarnya jari-jari).
E = I / d²
Dimana
E = Emisi cahaya,
I = Intensitas cahaya
d = jarak
Bentuk lain dari persamaan ini yang lebih mudah adalah:
E1 d1² = E2 d2²
Jarak diukur dari titik uji ke permukaan yang pertama-tama kena cahaya – kawat lampu pijar jernih, atau kaca pembungkus dari lampu pijar yang permukaannya seperti es.
Contoh: Jika seseorang mengukur 10 lm/m² dari sebuah cahaya bola lampu pada jarak 1 meter, berapa kerapatan flux pada jarak setengahnya?
Penyelesaian:
E1m = (d2 / d1)² * E2
= (1,0 / 0,5)² * 10
= 40 lm/m²
Suhu Warna
Suhu warna, dinyatakan dalam skala Kelvin (K), adalah penampakan warna dari lampu itu sendiri dan cahaya yang dihasilkannya. Bayangkan sebuah balok baja yang dipanaskan secara terus menerus hingga berpijar, pertama-tama berwarna oranye kemudian kuning dan seterusnya hingga menjadi “putih panas”. Sewaktu-waktu selama pemanasan, kita dapat mengukur suhu logam dalam Kelvin (Celsius + 273) dan memberikan angka tersebut kepada warna yang dihasilkan. Hal ini merupakan dasar teori untuk suhu warna. Untuk lampu pijar, suhu warna merupakan nilai yang “sesungguhnya”; untuk lampu neon dan lampu dengan pelepasan intensitas tinggi (HID), nilainya berupa perkiraan dan disebut korelasi suhu warna. Di Industri,“suhu warna” dan “korelasi suhu warna” kadang-kadang digunakan secara bergantian. Suhu warna lampu membuat sumber cahaya akan nampak “hangat”, “netral” atau “sejuk”. Umumnya, makin rendah suhu, makin hangat sumber, dan sebaliknya.
Perubahan Warna
Kemampuan sumber cahaya merubah warna permukaan secara akurat dapat diukur dengan baik oleh indeks perubahan warna. Indeks ini didasarkan pada ketepatan dimana serangkaian uji warna dipancarkan kembali oleh lampu yang menjadi perhatian relatif terhadap lampu uji, persesuaian yang sempurna akan diberi angka 100. Indeks CIE memiliki keterbatasan, namun cara ini merupakan cara yang sudah diterima secara luas untuk sifat-sifat perubahan warna dari sumber cahaya
Kesalah pahaman yang umum terjadi adalah bahwa suhu warna dan perubahaan warna keduanya menjelaskan sifat yang sama terhadap lampu. Selain itu, suhu warna menjelaskan penampilan warna sumber cahaya dan cahaya yang dipancarkannya. Perubahan warna menjelaskan bagaimana cahaya merubah warna suatu objek.
Hanya dalam beberapa dekade terakhir produk-produk penerangan menjadi lebih canggih dan beraneka ragam. Perkiraan menunjukan bahwa pemakaian energi oleh penerangan adalah 20 - 45% untuk pemakaian energi total oleh bangunan komersial dan sekitar 3 - 10% untuk pemakaian energi total oleh industri.
Hampir kebanyakan pengguna energi komersial dan industri peduli penghematan energi dalam sistim penerangan. Seringkali, penghematan energy yang cukup berarti dapat didapatkan dengan investasi yang minim dan masuk akal. Mengganti lampu uap merkuri atau sumber lampu pijar dengan logam halida atau sodium bertekanan tinggi, sehingga akan menghasilkan pengurangan biaya energi dan meningkatkan jarak penglihatan. Memasang dan menggunakan kontrol foto, pengaturan waktu penerangan, dan sistim manajemen energi juga dapat memperoleh penghematan yang luar biasa. Walau begitu, dalam beberapa kasus mungkin perlu mempertimbangkan modifikasi rancangan penerangan untuk mendapatkan penghematan energi yang dikehendaki. Penting untuk dimengerti bahwa lampu-lampu yang efisien, belum tentu merupakan sistim penerangan yang efisien.
Teori Dasar Mengenai Cahaya
Cahaya hanya merupakan satu bagian dari berbagai jenis gelombang elektromagnetis yang terbang ke angkasa. Gelombang tersebut memiliki panjang dan frekuensi tertentu, yang nilainya dibedakan dari energi cahaya lainnya dalam spektrum elektromagnetisnya.
Cahaya dipancarkan dari suatu benda dengan fenomena sebagai berikut:
• Pijar, benda padat dan cair memancarkan radiasi yang dapat dilihat bila dipanaskan sampai suhu tertentu. Intensitas meningkat dan penampilan menjadi semakin putih jika suhu naik.
• Muatan Listrik, jika arus listrik dilewatkan melalui gas,maka atom dan molekulnya akan memancarkan radiasi, dimana spektrumnya merupakan karakteristik dari elemen yang ada.
• Electro Luminescence, Cahaya dihasilkan jika arus listrik dilewatkan melalui padatan tertentu seperti semikonduktor atau bahan yang mengandung fosfor.
• Photo luminescence, radiasi pada salahsatu panjang gelombang diserap, biasanya oleh suatu padatan dan dipancarkan kembali pada berbagai panjang gelombang. Bila radiasi yang dipancarkan kembali tersebut merupakan fenomena yang dapat terlihat, maka radiasi tersebut disebut fluorescence atau phosphorescence.
Cahaya nampak, seperti yang dapat dilihat pada spektrum elektromagnetik, diberikan dalam Gambar 1, menyatakan gelombang yang sempit diantara cahaya ultraviolet (UV) dan energi inframerah (panas). Gelombang cahaya tersebut mampu merangsang retina mata, yang menghasilkan sensasi penglihatan yang disebut pandangan. Oleh karena itu, penglihatan memerlukan mata yang berfungsi dan cahaya yang nampak.
Gambar 1. Radiasi yang Tampak
Definisi dan Istilah yang Umum Digunakan
• Lumen: Satuan flux cahaya; flux dipancarkan didalam satuan unit sudut padatan oleh suatu sumber dengan intensitas cahaya yang seragam satu candela. Satu lux adalah satu lumen per meter persegi. Lumen (lm) adalah kesetaraan fotometrik dari watt, yang memadukan respon mata “pengamat standar”. 1 watt = 683 lumens pada panjang gelombang 555 nm.
• Efficacy Beban Terpasang: Merupakan iluminasi/terang rata-rata yang dicapai pada suatu bidang kerja yang datar per watt pada pencahayaan umum didalam ruangan yang dinyatakan dalam lux/W/m².
• Perbandingan Efficacy Beban Terpasang: Merupakan perbandingan efficacy beban target dan beban terpasang.
• Luminaire: Luminaire adalah satuan cahaya yang lengkap, terdiri dari sebuah lampu atau beberapa lampu, termasuk rancangan pendistribusian cahaya, penempatan dan perlindungan lampu-lampu, dan dihubungkannya lampu ke pasokan daya.
• Lux: Merupakan satuan metrik ukuran cahaya pada suatu permukaan. Cahaya rata-rata yang dicapai adalah rata-rata tingkat lux pada berbagai titik pada area yang sudah ditentukan. Satu lux setara dengan satu lumen per meter persegi. Tinggi mounting: Merupakan tinggi peralatan atau lampu diatas bidang kerja. Efficacy cahaya terhitung: Perbandingan keluaran lumen terhitung dengan pemakaian daya terhitung dinyatakan dalam lumens per watt.
• Indeks Ruang: Merupakan perbandingan, yang berhubungan dengan ukuran bidang keseluruhan terhadap tingginya diantara tinggi bidang kerja dengan bidang titik lampu.
• Efficacy Beban Target: Nilai efficacy beban terpasang yang dicapai dengan efisiensi terbaik, dinyatakan dalam lux/W/m².
• Faktor pemanfaatan (UF): Merupakan bagian flux cahaya yang dipancarkan oleh lampu-lampu, menjangkau bidang kerja. Ini merupakan suatu ukuran efektivitas pola pencahayaan.
• Intensitas Cahaya dan Flux: Satuan intensitas cahaya I adalah candela (cd) juga dikenal dengan international candle. Satu lumen setara dengan flux cahaya, yang jatuh pada setiap meter persegi (m2) pada lingkaran dengan radius satu meter (1m) jika sumber cahayanya isotropik 1-candela (yang bersinar sama ke seluruh arah) merupakan pusat isotropik lingkaran. Dikarenakan luas lingkaran dengan jari-jari r adalah 4πr2, maka lingkaran dengan jari-jari 1m memiliki luas 4πm2, dan oleh karena itu flux cahaya total yang dipancarkan oleh sumber 1- cd adalah 4π1m. Jadi flux cahaya yang dipancarkan oleh sumber cahaya isotropik dengan intensitas I adalah:
Flux cahaya (lm) = 4π × intensitas cahaya (cd)
Perbedaan antara lux dan lumen adalah bahwa lux berkenaan dengan luas areal pada mana flux menyebar 1000 lumens, terpusat pada satu areal dengan luas satu meter persegi, menerangi meter persegi tersebut dengan cahaya 1000 lux. Hal yang sama untuk 1000 lumens, yang menyebar kesepuluh meter persegi, hanya menghasilkan cahaya suram 100 lux.
Hukum kuadrat terbalik
Hukum kuadrat terbalik mendefinisikan hubungan antara pencahayaan dari sumber titik dan jarak. Rumus ini menyatakan bahwa intensitas cahaya per satuan luas berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari sumbernya (pada dasarnya jari-jari).
E = I / d²
Dimana
E = Emisi cahaya,
I = Intensitas cahaya
d = jarak
Bentuk lain dari persamaan ini yang lebih mudah adalah:
E1 d1² = E2 d2²
Jarak diukur dari titik uji ke permukaan yang pertama-tama kena cahaya – kawat lampu pijar jernih, atau kaca pembungkus dari lampu pijar yang permukaannya seperti es.
Contoh: Jika seseorang mengukur 10 lm/m² dari sebuah cahaya bola lampu pada jarak 1 meter, berapa kerapatan flux pada jarak setengahnya?
Penyelesaian:
E1m = (d2 / d1)² * E2
= (1,0 / 0,5)² * 10
= 40 lm/m²
Suhu Warna
Suhu warna, dinyatakan dalam skala Kelvin (K), adalah penampakan warna dari lampu itu sendiri dan cahaya yang dihasilkannya. Bayangkan sebuah balok baja yang dipanaskan secara terus menerus hingga berpijar, pertama-tama berwarna oranye kemudian kuning dan seterusnya hingga menjadi “putih panas”. Sewaktu-waktu selama pemanasan, kita dapat mengukur suhu logam dalam Kelvin (Celsius + 273) dan memberikan angka tersebut kepada warna yang dihasilkan. Hal ini merupakan dasar teori untuk suhu warna. Untuk lampu pijar, suhu warna merupakan nilai yang “sesungguhnya”; untuk lampu neon dan lampu dengan pelepasan intensitas tinggi (HID), nilainya berupa perkiraan dan disebut korelasi suhu warna. Di Industri,“suhu warna” dan “korelasi suhu warna” kadang-kadang digunakan secara bergantian. Suhu warna lampu membuat sumber cahaya akan nampak “hangat”, “netral” atau “sejuk”. Umumnya, makin rendah suhu, makin hangat sumber, dan sebaliknya.
Perubahan Warna
Kemampuan sumber cahaya merubah warna permukaan secara akurat dapat diukur dengan baik oleh indeks perubahan warna. Indeks ini didasarkan pada ketepatan dimana serangkaian uji warna dipancarkan kembali oleh lampu yang menjadi perhatian relatif terhadap lampu uji, persesuaian yang sempurna akan diberi angka 100. Indeks CIE memiliki keterbatasan, namun cara ini merupakan cara yang sudah diterima secara luas untuk sifat-sifat perubahan warna dari sumber cahaya
Kesalah pahaman yang umum terjadi adalah bahwa suhu warna dan perubahaan warna keduanya menjelaskan sifat yang sama terhadap lampu. Selain itu, suhu warna menjelaskan penampilan warna sumber cahaya dan cahaya yang dipancarkannya. Perubahan warna menjelaskan bagaimana cahaya merubah warna suatu objek.
Langganan:
Postingan (Atom)
















